Tampilkan postingan dengan label Catatan Karim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Karim. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2020

Curhatan di Hari Jumat (2)

Sebenarnya ini masih cerita yang sama, tentang mereka, yang berjuang di tengah pandemi COVID-19 ini. Kalau pembaca pernah membaca cerita http://karim-muhamr.blogspot.com/2020/04/curhatan-di-hari-jumat.html pasti akan tahu siapa itu Emak, orang yang jualan makanan di jalanan depan kantor. Emak, sebagai salah seorang akar rumput yang harus terus hidup memenuhi kebutuhan sehari-hari, kendati di tengah pandemi global ini.

Hari ini, hari ini pake banget pokoknya, tanggal 17 April, berbeda tujuh hari dari tanggal pertama kali saya menulis "Curhatan di Hari Jumat" tanggal 10 April yang lalu, saya mendapatkan kabar dari seseorang, salah seorang akar rumput di suatu tempat dimana saya dilahirkan dan dibesarkan, tidak lain ialah Yogyakarta, atau banyak yang menyebut dengan singkat Jogja.

Pulang ke kotamu... eh, jangan mudik dulu...

Orang ini, sebut saja Yu, cerita ke saya. Intinya, pedagang pasar kebingungan mesti jual kemana dagangan mereka. Katanya, pasar sangat dibatasi atau ditutup, saya kurang copy untuk hal ini. Yang jelas, karena pandemi global ini, mereka sangat sulit berjualan dagangan. Biasanya, menjual dagangan lebih mudah mereka lakukan dengan para pembeli setia yang langsung datang ke pasar, terutama dari hotel-hotel di Jogja yang biasa memasak makanan dalam jumlah banyak.

Keadaan kemudian menjadi berbalik. Tidak ada wisatawan, tidak ada hotel yang beroperasi. Tidak ada hotel yang beroperasi, memang bukan berarti tidak akan ada yang mau membeli dagangan, tetapi siapa yang mau membeli dagangan dengan jumlah banyak seperti hotel-hotel itu, sementara para pedagang pasar sudah terlanjur siap stok dagangan dengan jumlah yang banyak.

Sementara, roda harus terus berputar.

Jadi, apa yang mereka, para pedagang pasar, lakukan demi tetap terjualnya dagangan mereka? "Mereka jadinya jemput bola", kata Yu melanjutkan cerita. Sebagian dari mereka harus jemput bola, entah sebagian kecil atau sebagian besar dari mereka, lagi-lagi saya kurang copy untuk hal ini. Mereka mendatangi satu-satu, dari rumah ke rumah, dari pintu ke pintu, dari orang ke orang di tempat orang itu berada dimana biasanya orang-orang itu yang datang, mendatangi mereka ke pasar.

Anda bayangkan, mereka harus jemput bola. Artinya, mereka harus melakukan more effort dari biasanya. Apakah berlaku, yang katanya hukum ekonomi, hukum bisnis, hukum dagang, atau apalah, kalau more effort berarti mesti meraup keuntungan yang lebih besar, untuk menutupi more effort tersebut agar tidak mengelami kerugian dan agar dapat kembali berjualan di lain hari?

Jangankan mengambil kuntungan seperti sebelumnya. Ingat concern-nya yang telah saya tulis sebelumnya: demi tetap terjualnya dagangan. Jadi, apa mereka akan berpikir untung-rugi? Berpikir sama seperti halnya pihak-pihak yang sangat, sangat sibuk berpikir mengenai force majeure atau keadaan kahar untuk mengantisipasi menghindari kewajiban berdasarkan kontrak, setidaknya untuk sementara waktu, atau, mengantisipasi counterpart-nya yang bakal nge-les bahwa COVID-19 menjadi alasan keadaan kahar. Pihak-pihak yang lebih memiliki power and knowledge daripada para pedagang pasar.

Bukannya saya menyalahkan, toh saya juga menyimak pembahasan mengenai apakah COVID-19 menjadi alasan keadaan kahar serta merta? Ingat concern-nya yang telah saya tulis sebelumnya: lebih memiliki power and knowledge. Sebuah perbandingan, pihak-pihak yang lebih memiliki power and knowledge, setidaknya tidak terlalu tergilas daripada para pedagang pasar, maupun para akar rumput lainnya.

Sementara, roda harus terus berputar.

Yu mencontohkan harga daging ayam. Kata Yu, di Kodya, sebutan lain Kota Jogja, ayam kampung 1 kg harganya 80 ribu, ayam broiler 1 kg harganya 20 ribu. Bergeser sedikit ke suatu daerah, kataya Turi, dimana sudah termasuk Kabupaten Sleman tetapi tidak jauh juga dari Kodya, ayam broiler 1 kg harganya 15 ribu. Dengan more effort yang sama, jemput bola, dengan harga yang lebih murah. Demi tetap terjualnya dagangan. Itu cerita Yu pagi hari.

Belum yang lain. Sore hari, saya dapat kabar lain. Kabar yang ber-sliwer-an di sosmed dengan judul "Ratusan Ribu Petani Ikan Terancam Gagal Panen" dengan location tagged di Pasar Ikan Nogotirto, Kabupaten Sleman. Sama seperti halnya para pedagang pasar, mereka kesulitan untuk menjual dagangan daging ikan mentah segar, sebagai dampak luas dari penyebaran corona virus.

Bayangkan, katanya, ada puluhan-ratusan ton yang belum terpanen. Ingat concern-nya yang telah saya tulis sebelumnya: demi tetap terjualnya dagangan. Sama seperti halnya para pedagang pasar, sudah terlanjur siap stok dagangan dengan jumlah yang banyak. Untuk itu mereka harus jemput bola, persis sama seperti para pedagang pasar, more effort.

Mereka, para petani ikan dan Jaringan Mitra Perikanan Sleman (JMP) sesuai yang tertulis dalam pesan berantai itu, menawarkan untuk mengantar langsung daging ikan mentah segar ke ke orang di tempat orang itu berada dimana biasanya orang-orang itu yang mendatangi mereka. Bahkan, selain menerima pengiriman ikan dengan kondisi sudah hidup atau sudah mati dengan jeroan bersih, mereka juga menerima pesanan ikan bakar dan menu lainnya. Demi tetap terjualnya dagangan. Cerita lain yang saya dapat sore hari.

Sedikit jeda saja. Saya jadi ingat cerita gempa bumi di Yogyakarta pada 27 Mei 2006 silam. Saya ingat betul, saya masih SD saat itu. Suatu pagi, lagi tengah sarapan, tetiba muncul suara yang amat berisik. Awalnya saya yang masih ingusan, nggak ngeh kalau ada gempa, hanya fokus pada tivi yang tadinya menayangkan kartun favorit, berubah menjadi bergoyang ke kiri-ke kanan dengan layar berwarna biru.

Semua terjadi begitu cepat. Begitu pula pemberitaan korban jiwa dan segala kerugian yang timbul karenanya, tersebar begitu cepat. Namun, warga Yogyakarta memberikan suatu keteladanan yang baik di tengah bencana alam tersebut. Persisnya di Kabupaten Bantul, yang memiliki cerita tersendiri, dimana warganya saling bahu-membahu membangun kembali rumah-rumah yang telah hancur bahkan roboh rata dengan tanah. Padahal, tempat itu menjadi salah satu tempat terparah yang terdampak gempa.

Begitulah cerminan warga Jogja, saling tolong-menolong, saling bahu-membahu. Dulu, warga Jogja berhasil membuktikan bahwa mereka kuat di tengah bencana alam. Belum yang lain. Sebut saja Erupsi Gunung Merapi pada 8 November 2010 silam. Mereka tetap membuktikan bahwa mereka, warga Jogja, adalah orang-orang yang kuat!

Di tengah COVID-19 ini sebagai bencana non-alam, boleh jadi para pedagang pasar, para petani ikan, maupun lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu-per-satu, tidak bisa mendapatkan keuntungan sama seperti biasanya. Namun, sekali lagi, warga Jogja kembali mencerminkan diri mereka, saling tolong-menolong, saling bahu-membahu. Jual-beli tetaplah terlaksana, saling melengkapi kebutuhan masing-masing, antara penjual dengan pembeli.

Mereka, para akar rumput, tetap membuktikan bahwa mereka orang-orang yang kuat! Dan, saya yakin, inilah cerminan sesungguhnya kita, Indonesia. Seperti halnya yang dikatakan oleh Cak Nun atau Muhammad Ainun Nadjib, bahwa Indonesia dasarnya adalah orang-orang yang kuat!

Kita tentu mendoa, berharap, semoga pandemi ini segera berakhir dan kita dapat beraktivitas lagi seperti biasanya. Kembali melanjutkan cerita, perjuangan, dan cita-cita masing-masing. Kembali bercengkrama satu sama lain. Dan, suatu saat kita bisa menceritakan kepada generasi selanjutnya, bahwa kita semua orang-orang kuat!

Semoga, hari ini sebagai salah satu hari-hari yang kita lalui bersama, menjadi saksi bahwa kita semua orang-orang kuat!

Semoga!

Jumat, 17 April 2020

Muhammad Karim

Jumat, 10 April 2020

Curhatan di Hari Jumat

Saya sebenarnya tidak tau mau nulis apa, tapi hanya ingin, ya katakan, curhat saja.

Ingin sekali rasanya membuat sebuah buku... buku nikah, hilih! Bercanda, tepi serius, eh.

Saya sebenarnya ingin menulis sebuah buku tentang apa-apa yang sudah saya jalani selama ini, tidak soal apakah ada yang mau membaca atau tidak, saya hanya ingin saja, entah kenapa, tapi bingung harus memulai dari mana... oh dari mana... dari matamu, matamu, matamu, hilih!

Terlalu banyak rasanya hal-hal yang ingin dituliskan. Begitu banyak kenangan yang tersimpan dan teringat, tapi terkadang juga bisa lupa, mengingat saya hanya manusia biasa yang suka lupa. Dan, saya yakin pembaca tentu memiliki banyak hal yang ingin dituliskan, tapi saking banyaknya, jadi bingung gimana mau mulai. Sama-sama bingung? Kuy pelukan tiang listrik, apa tembok rumah atau kos masing-masing, wkwk.

Kali ini saya ingin curhat sedikit, tapi panjang (lah piye tho, mbingungi?!) terkait pengalaman hidup di tengah COVID-19 ini.

Syukur, sampai saat ini saya tidak kena gejala dan semoga tidak ada memang tidak ada COVID-19 di dalam tubuh saya. Satu sisi, ini benar-benar saya syukuri. Saya sehat, bisa stay at home kendati tidak bersama kelaurga, karena saya takut ternyata carrier, siapa tempe kan? Bisa stay at home, jadinya tidak perlu repot-repot physical distancing ke luar rumah atau ke tempat publik.

Namun, kadang saya suka kepikiran, menjadi suatu hal yang aneh, yang tadinya sehari-hari ke kantor, balik, kos, ke kantor, balik kos. Ketemu bos-bos, ketemu teman-teman, diskusi, gojekan, atau apalah rutinitas semua itu yang tetiba terhenti begitu saja. Dan, saya yakin pembaca tentu merasakan hal yang sama.

Tidak hanya itu, kali ini yang saya tulis secara khusus, saya kepikiran seorang ibu yang jualan makanan di depan kantor dan para abang ojol.

Kami manggilnya emak, panggilan untuk ibu-ibu dalam Bahasa Jawa. Emak ini -saya lupa namanya, sehari-hari jualan di jalan depan kantor saya persis. Tiap pagi banyak yang beli makan di situ, tak terkecuali saya, teman-teman, dan orang-orang se-kantor lainnya.

Emak itu baik banget orangnya, malah kadang suka kasih harga murah kalau saya beli makanan. Saking baiknya. Bayangkan, orang yang secara pandangan mata kemampuan ekonominya mungkin tak seberapa, tapi bisa berbagi. Itu salah kekayaan sesungguhnya dalam hidup!

Sedikit jeda saja. Saya jadi ingat warung Bu Egar, saat saya masih nge-kos 4 bulan di NTB. Suatu hari, saya pernah tanya, kenapa uang 2 ribu-an dan 5 ribu-an yang masih kincling/baru disishkan? Jawabannya sederhana, tapi sungguh menyentuh. Di dekat tempat beliau tinggal, ada anak-anak yatim. Mereka senang sekali dikasih uang baru, ya berbagi sedikit, katanya. Sekali lagi, itu salah kekayaan sesungguhnya dalam hidup!

Kembali ke cerita Emak. Emak, orang yang kerap negur saya, "Anak kok cuman makan daun?!"

Saya itu kerap diprotes sama Emak, karena beli nasi dikit, minta pecel tapi tanpa bumbu, sudah gitu lauk telor satu, atau kadang gorengan. Katanya, gimana saya mau gemuk, wong makan dikit. Ya, saya memang kerempeng, ceking, tinggi pun tidak, hha!

Kadang kita suka kecelik, bingung, kalau Emak pas nggak jualan. Pernah kita ikut sedih juga, suatu hari Emak nggak jualan, karena suaminya sakit. Padahal, suaminya sehari-hari mbantu beli bahan-bahan di pasar tiap pagi. Jadi pernah, pada waktu tertentu, Emak "sendiri" di tendanya. Terus ada salah satu dari teman kami yang inisiasi mbantu Emak, kasih sedikit sebisanya dari kami. Berbagi sebisanya dari kemampuan kami, sambil tetap beli makanan Emak.

Beli makanan ke Emak kadang bareng teman se-ruangan, kadang sendiri. Begitu datang, diomelin mulu. What a nice moment! Kita bisa ledek-ledekan dan cengkrama satu sama lain, sekalipun saya cenderung pendiam. Kemudian, cerita-cerita itu seketika menjadi kenangan, setidaknya sampai ditulisnya tulisan ini.

Selain itu, saya juga teringat para abang ojol. Mereka itu sampai hafal satu-satu penumpangnya, jadi kayak saudara sendiri saja. Hafal nama saya, hafal kos-an saya, tapi saya nggak hafal juga nama, motor, dan nomor plat-nya. Apakah mereka ojol yang dekat kos ataupun dekat kantor, mereka hafal kita. Kalau perlu, beberapa di antara mereka ada yang inisiatif manggil terlebih dulu, "Pak Karim ya?", misalnya seperti itu.

Pernah suatu waktu, pas akhir tahun 2019, saya sakit cukup lama, sampai satu bulan. Masuk kantor lagi, mereka masih ingat saya dan kos saya.

Kadang suka sambil ngobrol kalau nge-ride. Kadang saya minta mampir bbeli makan malam ke warung yang kelewat satu jalan menuju kos-an. Malah, pernah beberapa kali saya minta mampir modern mart, nggak au diganti ang parkirnya. Itupun nggak mau bilang kalau tadi mbayar parkir.

Pernah ada satu atau dua driver ojol yang bilang alasan nggak mau diganti uang parkir. Katanya cuman 2 ribu-an, 5 ribu-an, wong berbagi dikit aja mas, katanya. Lagi-lagi, itu salah kekayaan sesungguhnya dalam hidup! Kemudian, cerita-cerita itu seketika menjadi kenangan.

Saya kepikiran dengan Emak, para abang ojol, maupun orang-orang seperti mereka, bagaimana mereka harus hidup sehari-hari. Apalagi, di tengah pandemi global ini.

Sebelum kantor menerapkan WFH secara full, menjadi awal kehilangan kenangan-kenangan itu dengan cepat. Demi menjaga kondisi, pada saat itu kami tidak mungkin beli makanan lagi ke Emak. Seketika kami berpikir, siapa yang beli makanan Emak? Masih ada nggak yang lain yang beli makanan ke Emak? Terus nanti gimana?

"Mesakno yo mas?", kata salah satu teman saya. Artinya, kasihan ya mas.

Bahkan sampai sekarang, kami se-ruangan suka kepikiran Emak. Dan, saya yakin tidak hanya saya atau kami se-ruangan saja yang kepikiran Emak... se-kantor, bahwa se-kawasan mungkin!

Cerita kenangan pun tidak hanya dengan Emak. Pada saat sebelum diterapkan WFH secara full, orderan para abang ojol pun berubah, tentu saja menurun. Kadang beberapa dari mereka ada yang cerita, bingung, kok jadi sepi, tapi mau gimana lagi.

Mereka yang harus bertahan di luar, demi mengisi kebutuhan di dalam rumah atau tempat mereka masing-masing.

Sampai suatu hari, ketika WFH secara full benar-benar diterapkan mulai hari ini, semua cerita itu benar-benar menjadi kenangan. Ini bukan saja soal kenangan cerita itu semua semata, melainkan kepikiran bagaimana mereka harus bertahan di tengah pandemi ini. Tentu, orang-orang seperti mereka mengalami kesulitan yang lebih dibandingkan hari-hari sebelum sebuah pandemi global terjadi.

Jadi, saya kebayang, andaikata seseorang harus ingin menulis sebuah buku seperti saya, saya mungkin harus berpikir ulang.

Ada orang-orang seperti mereka yang benar-benar butuh menulis sebuah buku. Sebuah buku bukan untuk mengenang cerita semata, melainkan menuliskan hidup-hidup mereka di tengah bencana yang entah-berantah kok bisa muncul dan dari mana mulanya dibuat. Andai orang-orang seperti mereka punya kesempatan dan kemampuan untuk menulis buku, nggak kebayang seberapa banyak yang bisa dan harus mereka tulis.

Mereka, yang menjadi salah satu pihak yang begitu terdampak dari adanya situasi yang tidak mudah ini.

Mereka sendirian? Tidak! Ada dokter, tenaga medis, maupun yang lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Sekali lagi, andai punya kesempatan dan kemampuan untuk menulis buku, nggak kebayang seberapa banyak yang bisa dan harus mereka tulis.

Tulisan ini, bukan maksud saya untuk bersedih. Bukan! Semata-mata, tulisan sederhana ini hanya ingin sedikit memberikan kepedulian kepada mereka-mereka yang mungkin tidak seberuntung kita, yang masih bisa stay at home, atau physical distancing saat bepergian seperlunya.

Jadi, para pembaca yang baik hatinya, yang masih beruntung bisa menerapkan stay at home, kiranya mensyukuri hal ini baik-baik dan jangan menyepelekan status PSBB yang sudah ditetapkan dan tengah berlangsung hingga saat tulisan ini dibuat.

Bagi para pembaca yang ingin bisa memahami sekilas saja mengenai PSBB, bisa membaca tulisan saya di link http://karim-muhamr.blogspot.com/2020/04/sanksi-penerapan-psbb-dan.html dengan harapan para pembaca yang sebelumnya kurang paham, dapat menjadi paham, sebagai bentuk meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan kita, tapi dengan tidak melakukan tindakan panik.

Saya, saat ini, tidak bisa memberikan apa-apa kepada mereka, tidak bisa bercengkrama seperti rutinitas biasanya. Saya hanya bisa menuliskan tulisan sederhana ini. Saya hanya bisa berdoa, semoga mereka kuat! Saya yakin mereka kuat!

Kita tentu mendoa, berharap, semoga pandemi ini segera berakhir dan kita dapat beraktivitas lagi seperti biasanya. Kembali melanjutkan cerita, perjuangan, dan cita-cita masing-masing. Kembali bercengkrama satu sama lain. Dan, suatu saat kita bisa menceritakan kepada generasi selanjutnya, bahwa kita semua orang-orang kuat!

Semoga, hari ini sebagai salah satu hari-hari yang kita lalui bersama, menjadi saksi bahwa kita semua orang-orang kuat!

Semoga!

Jumat, 10 April 2020

Muhammad Karim

Selasa, 12 Desember 2017

(Permasalahan) Disabilitas dalam Sosiologi Hukum: Sebuah Catatan Singkat

Kaum disabilitas atau difabel (different ability/berbeda kemampuan) yang disebut sebagai orang-orang dengan berkebutuhan khusus maupun kelainan fisik atau mental, kerap mendapatkan perlakuan diskriminasi di tengah kehidupan masyarakat. Bahkan di tengah-tengah kehidupan demokrasi dan hiruk-pikuk memperjuangkan hak asasi manusia, mereka masih saja terlupakan dan terpinggirkan, menjadi isu klasik yang seolah sudah biasa.
Padahal, disabilitas bukan berarti bukan manusia. Semangat inilah yang dibawa oleh masyarakat internasional, yangmana kemudian dituanagkan di dalam United Nations Convention Rights of Person with Disabilities. Konvensi tersebut menggunakan istilah person with disabilities, bukan disabilities people, yang menempatkan dan mengakui tiap-tiap orang secara individu yang memiliki kelainan fisik tetaplah manusia sebagai subjek, sama seperti lainnya. Kelainan fisik maupun mental yang disandang oleh seseorang, bukan berarti menempatkan dirinya sebagai objek in society.
Menempatkan dan memandang disabilitas sebagai objek inilah yang menimbulkan diskriminasi negatif selama ini. Mereka dianggap tidak mampu, butuh dikasihani, bahkan terhina. Sehingga sebagai kelompok termarjinalkan atau minoritas, hak-hak setiap orang disabilitas perlu dilindungi.

Main Pim-pong
Pemerintah Indonesia memang telah meratifikasi UNCRPD melalui Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011. Namun, implementasi negara dalam upaya untuk memenuhi hak-hak disabilitas di berbagai bidang belum sepenuhnya dilakukan, baik dari sector pendidikan, kesehatan, pekerjaan, kehidupan yang layak, dan lain sebagainya. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1997 saja masih menggunakan istilah penyandang cacat, yangmana menimbulkan konsekuensi bahwa mereka yang berkelainan fisik atau mental ditempatkan sebagai subjek dalam kehidupan.
RUU Disabilitas yang baru digodok dan on progress menunjukkan disabilitas masih menjadi mainan pim-pong di dalam percaturan politik. Disabilitas bukanlah menjadi isu yang penting bagi para pembuat kebijakan maupun pemangku kepentingan. Kebijakan yang dikeluarkan pun cenderung tidak memihak, bahkan semakin menyudutkan.
Isu disabilitas bisa saja terangkat dalam sekejap dalam momen-momen tertentu, sebut saja pada akhir tahun ini bertepatan hari disabilitas internasional pada 3 Desember dan pilkada pada 9 Desember mendatang. Namun, apakah memperjuangkan isu disabilitas hanya sekedar euphoria semata? Tidak ada jaminan bahwa hari disabilitas dan momen pilkada yang kebetulan berdekatan itu, pasangan calon melalui janji kampanye akan benar-benar memperjuangkan isu disabilitas, selain setelah pasangan calon terpilih benar-benar merealisasikan melalui kebijakan yang nyata.
Ironisnya, pada saat yang sama, orang disabilitas masih saja terdikriminasi dalam menyampikan aspirasinya di dalam pesta demokrasi bernama pemilu, yang katanya pesta untuk semua rakyat dan dalam rangka menjamin hak asasi manusia. Para disabilitas kerap kesulitan dalam mengenal dan memilih pasangan calon, tersampaikan aspirasinya kepada pasangan calon saat masa kampanye, kesulitan akses secara fisik maupun akses informasi dalam pilkada, atau bahkan tidak dapat menyampikan maupun tersampaikan aspirasinya, baik pada masa kampanye maupun saat mencoblos. Lantas bagaimana hak-hak disabilitas dapat terpenuhi dengan baik, jika hak memilih saja tidak terlindungi dengan baik?

Regulasi
Karena dari hak memilih itulah ditentukan nasib banyak orang, karena calon terpilih nantinya mempunyai kuasa untuk mengeluarkan regulasi-regulasi yang tepat dan tidak menyudutkan disabilitas. Masyarakat DIY patut berbangga dengan adanya Perda DIY Nomor 4 Tahun 2012 yang menjamin hak-hak disabilitas, maupun adanya berbagai organisasi yang menyuarakan atau mewadahi aspirasi dan kemampuan disabilitas, baik dari pemeritnah maupun LSM. Sinkronisasi antara pemerintah dan masyarakat inilah yang seharunya tercipta dan terbangun di dalam upaya melindungi hak-hak disabilitas, karena tidak mungkin menjadi bangsa yang besar tanpa memeperhatikan mereka yang termarjinalkan termasuk disabilitas.
Momen hari disabilitas kiranya menjadi refleksi bagi kita semua untuk ngewongke wong disabilitas, baik bagi semua lapisan masyarakat, maupun bagi pemerintah yang berkuasa mengeluarkan kebijakan. Termasuk dalam momen pilkada ini, hendaknya para calon pasangan agar mengangkat isu disabilitas tidak sebatas untuk merebut hati disabilitas. Namun juga bagaimana setelah terpilih calon pasangan dapat mengeluarkan regulasi yang dapat melindungi hak-hak disabilitas pula.
(Dikutip dari tulisan opini “Disabilitas Bukan Sekadar Isu Pilkada” oleh Muhammad Karim Amrullah, yang dimuat Koran Kedaulatan Rakyat pada Rabu, 9 Desember 2015)

Angan Pendidikan Inklusif
Begitu pula difabel dalam menghadapi realita sulitnya mengakses ha katas pendidikan. Gong 2 Mei seharusnya menjadi refleksi bagi kita semua, sejauh manakah keadilan dalam mengenyam pendidikan dapat dirasakan bagi setiap kalangan. Di tengah semaraknya Hari Pendidikan Nasional, kenyataan menunjukkan bahwa belum semua lapisan masyarakat telah meraih hak atas pendidikan di Indonesia. Terlebih, bagi mereka yang termarjinalkan seperti kaum difabel.
Di tengah upaya perbaikan akan kualitas pendidikan di Indonesia, semangat mewujudkan kondisi pendidikan yang inklusif terus digaungkan. Kondisi pendidikan dimana difabel dapat berbaur dengan non-difabel dan dianggap mampu mengikuti proses pembelajaran di sekolah sama seperti lainnya. Karena sejatinya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama dalam memperoleh hak atas pendidikan, agar setara dengan manusia lainnya. Namun, pendidikan inklusif masih sulit untuk diimplementasikan.
Kaum difabel masih saja terpojokkan untuk menimba ilmu. Perbedaan yang melekat secara fisik selalu menjadi penghalang bagi mereka untuk sekedar duduk di bangku sekolah, terlebih bermimpi hingga bangku kuliah. Kalaupun ada, jumlah mereka hanya sebanyak hitungan jari. Hal ini tidak dapat dielak lagi, mengingat sebagian kecil saja masyarakat yang dapat menempuh jalur pendidikan formal. Apalagi difabel sebagai kelompok minoritas secara umum.
Sebagai kelompok minoritas, difabel rentan terhadap tindakan diskriminasi yang negatif. Awal dari diskriminasi di bidang pendidikan, menjadi akar permasalahan yang serius bagi difabel. Ibarat bola salju, satu permasalahan yang mendasar akan menyebabkan berbagai permasalahan yang timbul di kemudian hari. Stigma-stigma negatif yang telanjur terbangun di tengah masyarakat dalam memandang orang yang memiliki keterbatasan, sesungguhnya pemicu awal mula dari rentetan yang logis pelanggaran hak asasi manusia yang “sudah biasa” terjadi.

Bermula dari Persepsi
Pandangan negatif inilah yang kemudian dapat memukul secara psikologis, baik bagi difabel secara individu, maupun bagi orang tua dan keluarganya. Belum lagi jika terdapat kasus di mana lingkungan keluarga tak mendukungnya untuk tumbuh seperti manusia lainnya. Orang yang memiliki kelainan pun menjadi canggung untuk sekedar berbaur dengan lingkungan sekitarnya sendiri. Pendidikan informal pun tak terpenuhi bagi difabel itu sendiri.
Ketidakmampuan seorang difabel untuk berbaur dengan masyarakat, melahirkan sebuah pembatas antara difabel dengan orang-orang yang dianggap normal. Padahal, orang difabel perlu untuk menyuarakan adanya pelanggaran HAM atas dirinya sendiri dan mereka yang bernasib sama di berbagai tempat. Permasalahan ini kemudian berlanjut pada sekat yang lebih besar, ketika difabel terhadang untuk menempuh jalur pendidikan formal.
Di lapangan menunjukkan akan terjadi setidaknya dua bentuk diskriminasi. Pertama, sekolah tak mau atau tak bisa menerima seseorang dengan ketunaannya untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kedua, kalaupun sekolah itu mau menerima, belum tentu sekolah itu mampu untuk memenuhi berbagai kebutuhan seorang yang berkebutuhan khusus untuk mendukung kegiatan dalam proses pembelajaran sesuai apa-apa yang dibutuhkannya.
Dari sini terlihat bahwa difabel tidak dapat menikmati bangku sekolah sebagaimana yang sepatutnya. Dalam berbagai kasus, ada diantara mereka yang akhirnya putus sekolah. Ada pula yang terus berjuang melanjutkannya, dengan konsekuensi mereka harus mampu memenuhi kebutuhannya yang khusus secara mandiri. Bertambah ruwet, jika kondisi sekolah yang bersangkutan tidak mau memperhatikan kondisi ketunaan yang ada pada salah satu atau dua dari sekian banyak muridnya.
Polemik tersebut menyebabkan seorang difabel tidak memiliki latar belakang pendidikan yang memadai. Hal ini tentu saja membangun tembok penghalang yang lebih besar lagi. Ia justru bisa menjadi penghalang bagi dirinya sendiri untuk mendapat pekerjaan dengan upah yang layak. Di sinilah akar mulanya kemiskinan dan pengangguran kian hari kian membengkak jumlahnya, khususnya di kalangan difabel. Hal ini diperparah ketika seorang difabel tidak mendapatkan pendidikan non-formal seperti pelatihan, yang menjadikannya tertatih-tatih menyesuaikan tuntutan zaman yang terus berkembang.
Kenyataan memang masih jauh dari harapan. Membangun pendidikan inklusif bukanlah perkara mudah. Selain membutuhkan sumber daya manusia dan anggaran yang memadai, kesadaran masing-masing pihak menjadi kunci utama terwujudnya pendidikan inklusif. Sehingga dalam upaya mewujudkan pendidikan yang inklusif, perlu dibarengi dengan pemahaman bersama pula untuk meluruskan pandangan masyarakat yang salah terhadap difabel.

(Dikutip dari tulisan opini “Angan Pendidikan Inklusif” oleh Muhammad Karim Amrullah, yang dimuat Dekatsini pada Mei 2017)

Senin, 10 Juli 2017

Menanti Pintu Terakhir

Telah banyak pintu terbuka yang saya lihat, dan beberapa diantaranya telah saya ketuk, mencoba untuk masuk atau sekadar tau saja. Sejauh ini, semua itu hanya khayalan saja. Ada pintu yang dengan ramah, mempersilahkan untuk masuk, yang tetiba lenyap. Ada pintu yang mengundang, yang kemudian mengundang yang lain juga dan mengundang saya untuk keluar. Ada pintu yang diam-diam mengajak kemari, yang diam-diam pula menyimpan segudang pilihan. Ada pintu yang rapuh, yang menanti secara tersirat untuk diperbaiki, tetapi tidak konsisten, penuh kebiasan.

Sempat ada pintu yang membukakan kepada diri ini. Awalnya saya tidak coba masuk karena ragu, taktik cupu maju-mundur saat saya coba ketuk pada mulanya. Awal-awal tidak ada respon. Selanjutnya memang mengundang, mengajak masuk, memberi ruang berteduh di tengah hujan lebat. Seiring berjalannya waktu, nampaknya meyakinkan. Akan tetapi, ternyata bukan, berusaha menghilang begitu saja. Yang justru menambah trauma, dan seakan ingin berkata bahwa, lebih baik waktu itu diri ini dihujam kehujanan, daripada berteduh secara semu.

Terakhir yang saya coba sejauh ini, ada pula pintu yang banyak diburu. Saya ingat waktu itu setidaknya ada beberapa orang dengan jumlah kurang-lebih sebanyak hitungan jari tangan pada satu sisi, yang saling berebut di depan, untuk sekadar masuk, memperkenalkan diri. Dengan bodohnya saya nyelenong masuk begitu saja, siapa tau inilah yang selama ini saya cari, saya pikir waktu itu. Bahkan untuk yang satu ini, saya sempat membentuk majelis tertutup, mengundang orang-orang pilihan terpercaya untuk menuntun dan tempat berkonsultasi. Ternyata hanya berlangsung singkat, mungkin serasa tiga detik, terpental. Untung saya sudah cukup kebal, atau setidaknya tidak terlalu rapuh untuk merasakan hal yang sama untuk kesekian kalinya. Karenanya, ini bukan upaya yang terkahir untuk mencari pintu apa lagi.

Dan, ada banyak jenis pintu yang tidak bisa saya ingat. Setiap pintu memiliki teka-teki tersendiri, sulit untuk dipahami. Namun, setidaknya ada pelajaran yang bisa dipetik. Pun, setidaknya telah ada upaya, inisiatif dari diri sendiri. Sekalipun menyakitkan semua, apapaun namanya, penolakan tetaplah penolakan. Kembali lagi di tengah-tengah keramaian yang terasa sepi. Melihat banyak pintu yang terasa menggoda, dengan melihat banyak orang yang tergoda di depannya. Melihat banyak pintu yang telah dimasuki dan tertutup untuk selamanya, tampaknya, dengan hiasan yang menunjukkan penuh kebahagiaan di dalamnya. Ya, ikut bahagia dan tidak boleh syirik tentunya.

Namun demikian, ada juga pahit pintu lain yang saya lihat. Dan saya juga tidak ingin mentertawakannya, dan tidaklah bijak saya berlaku seperti itu. Hanya saja, lucunya, saya dengan pengalaman memasuki pintu yang tergolong minim, tidak jarang diri ini menjadi tempat curhat bagi orang yang memiliki pintu kerap gagal membuka bagi orang yang menanti ataupun dinanti, atau orang yang kerap gagal memasuki pintu yang ternyata pintu bagi orang lain. Yang saya lakukan hanya memehami, mendengar saja. Entah yang diceritakan salah atau benar, yang penting saya tidak merecoki. Bahkan, sejahat-jahatnya orang pun, butuh tempat curhat yang berganti-ganti. Apalagi seseorang yang terluka begitu parah, yang sayapnya terobek-robek, menjadikannya terombang-ambing serasa tanpa makna. Disitu kadang saya merasa tidak sendiri, hehehe.

Mulanya saya khawatir, saya tidak lekas menemukan pintu yang seharusnya pintu yang saya masuki, pintu yang tercipta untuk saya. Toh, itu manusiawi. Setiap insan yang masih menyendiri tentu merasakan hal yang sama. Kekhawatiran yang mendalam dalam kesendirian. Boleh jadi, selama ini saya telah berjuang malang-melintang mencari pintu. Akan tetapi, saya kemudian berpikir, jangan-jangan cara saya dan sudut pandang saya dalam menemukan pintu selama ini salah. Salah-salah, inilah yang selama ini terjadi. Jadi, ada kekhawatiran yang lebih filosofis yang timbul dalam benak dan rasa saya: saya belum berupaya memantaskan diri bagi pintu yang terbaik.

Saya tidak mungkin mengizinkan diri sendiri untuk jatuh ke lubang yang sama, melakukan kesalahan yang sama. Yang bukan berarti tidak mau menghadapi kembali penolakan, melainkan memperbaiki cara dalam menempuh jalan. Menyadari bahwa manusia ini penuh dengan kekhilafan dan kelemahan, sedangkan yang baik-baik itu semata-mata karena Tuhan menutupi aib seseorang. Pun, Tuhan dengan kuasa-Nya menggariskan bahwa yang terbaik akan dijodohkan bagi yang terbaik pula. Seperti pepatah bahwa seseorang akan memetic apa yang ia tanam, yang dalam konteks kegalauan ini dapat diperluas maknanya, bahwa seseorang akan menemukan pintu yang selama ini ia cari. Jika caranya baik, pintu yang terbaik akan menantinya dan tidak bagi yang lain, dan begitu pula sebaiknya.

Memantaskan diri bagi pintu yang terbaik, menyadari diri ini bukanlah siapa-siapa, yang harus banyak belajar dari jalan-jalan yang pernah ditempuh, maupun dari yang dapat disaksikan oleh diri sendiri. Jadi, kali ini saya harus menahan diri, tidak boleh teruru-buru, grusa-grusu, kesusu. Berharap menemukan pintu yang tepat, dan untuk terakhir kalinya keluar ditengah rimba. Hanya saja, masih terbenak akan penasaran pintu mana yang menanti saya. Apakah pintu yang masih jauh adanya, yang masih dijaga dan dirahasiakan oleh waktu yang belum memperkenankan untuk berjumpa. Atau ternyata pintu yang selama ini saya kenal, yang tidak pernah disadari bahwa ia terbuka untuk diri ini, yang menantiku dalam diam sampai detik ini. Wahai pintu terakhir, semoga dirimu menanti diri ini!

Kamis, 27 April 2017

Ikhlas

Ikhlas

Ya Allah
Sejauh hamba ini melangkah
Malu rasanya jika hamba mengeluh
Sedetikpun dalam hidup hamba
Namun
Rasanya tidaklah mudah untuk ikhlas
Ketika hamba
Menerima sedikit ujian
Sedikit cobaan atau teguran
Seolah pundak yang kecil ini
Tak sanggup lagi memikul
Sedikit beban yang tak seberapa
Bila dibandingkan dengan nikmat Mu
Yang tak akan pernah terhitung

Hamba sadar bahwa tiada kekuatan
Selain dari Mu
Maka Ya Allah
Jika umur hamba sesingkat pijar lilin
Mohon berkahilah
Jika hati hamba tak seluas samudra
Mohon bersihkanlah
Jika ilmu hamba tak sebijak padi yang menunduk
Mohon basahi mata hati ini
Agar jalan yang singkat ini
Dapat menuntun mendekat kepada Mu

Ya Allah
Hamba memohon
Petunjuk Mu
Sebaik-baik petunjuk
Cahaya yang penuh kedamaian
Yang menetramkan hati
Meneduhkan jiwa
Bagi setiap insan yang dapat merasakan
Kasih sayang Mu

Terima kasih Ya Allah
Atas kasih sayang Mu
Engkau yang menciptakan seorang malaikat
Ibu
Yang ikhlas menerima hamba
Yang tak pernah sedikitpun mengeluh
Atas anugrah dari Mu kepadanya
Hamba
Yang terlahir berbeda
Namun
Engkau taruh hati yang mulia pada ibu
Engkau menjadikannya melihat hamba mulia
Seperti nama hamba yang disematkan
Oleh pendamping malaikat itu
Bapak
Sebagai ungkapan rasa syukur mereka
Hanya kepada Mu

Mereka yang Engkau izinkan
Untuk merawat hamba
Tercurahkan kasih sayang Mu
Melalui tangan mereka
Mereka yang berharap
Hamba menjadi seorang yang mulia
Dan menjadikan mereka mulia di mata hamba
Semata-mata bentuk ibadah kami kepada Mu
Hanya kepada Mu

Sungguh
Bila hamba dapat hidup berjuta-juta abad lamanya
Tak sejengkal detikpun hamba mampu
Membalas kasih sayang mereka
Kedua orang tua hamba

Ya Allah
Jika memang Engkau menghendaki
Hamba tak bisa selalu di sisi mereka
Maka satukanlah kami kembali
Di tempat semulianya tempat kembali

Ya Allah
Hamba memohon
Agar ibu bapakku selalu tersenyum
Bahagia penuh kedamaian
Sepanjang hidup mereka
Selalu
Sayangilah mereka
Seperti sayang mereka kepada hamba
Sayang sepanjang jalan tiada tara

Ya Allah
Sejauh Engkau masih mengizinkan hamba
Untuk terus dapat menapaki jalan
Di sisa waktu yang Engkau lapangkan
Kuatkan hamba Mu untuk ikhlas
Sekuat ikhlas mereka
Yang terlukis indah dalam senyum mereka
Hingga pada waktu yang Engkau tentukan
Kapanpun itu
Hamba dapat mengakhirinya dengan ikhlas

Kamis, 13 April 2017

Belajar Sabar

Entah kenapa kali ini saya ingin menulis sesuatu yang beda dari post sebelumnya, ya ingin nulis santai aja. Tentang satu hal yang kalau diucapkan dan ditulis mudah, cuman sulit dilakukan.

Ya, sabar. Belajar sabar itu katanya nggak mudah, dan nyatanya begitu. Dapat ilmunya saking banyaknya, tapi ujiannya dadakan, kalau lagi diuji ya suka lupa jadi suka mudah marah. Ntar kalau marahnya sudah selesai dan baru sajar diuji kesabarannya, baru nyeselnya datang belakangan. Saya pun juga suka khilaf kalau pas lagi diuji kesabarannya, hanya saja kita mesti bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang ada, ya dengan bersabar itu tadi. Memang tidak mudah.

Ada kalanya kita merasa kita gak salah, nah ini mesti hati-hati, siapa tau kita memang yang salah. Namun jika yang salah memang pihak lain atau pihak lawan, kita tidak harus membalas dengan kesalahan, nah di situ kesabaran kita diuji oleh Tuhan. Atau, pada suatu waktu kita tau yang benar, cuman pada waktu itu pula bukan moment yang pas untuk cerita kepada yang lain seperti apa, kadang takut menyinggung orang lain, atau dikira bikin huru-hara kalau belum bisa membuktikan langsung, atau pada waktu itu gak guna kalau bilang yang bener seperti apa daripada dikira ngajak berantem.

Ini sering kejadian dan memang suka ngeselin, namanya diuji dadakan. Misal yang paling sederhana, kita lagi di jalan, sudah di jalur yang benar, ngebut ya kagak, lampu lalin diikutin. Eh ada pengendara lain yang ngawur nyelenong begitu aja, mana yang nyalip dari kiri tanpa aba-aba, atau lampu sein kanan tapi belok ke kiri jadi kita nge-rem dadakan, macem-macem lah. Tapi, kalau kita waktu itu juga ngomel-ngomel kalau kita yang bener, kita malah rugi sendiri, karena tidak akan menyelesaikan masalah, kan? Nah apalagi yang nyelenong itu mantan yang ditikung (eh) hha.

Kalau di Jawa ada istilahnnya tidak cuman benar, melainkan juga harus pener. Benar tidaklah cukup, melainkan kita juga harus bersikap di waktu dan di tempat yang tepat, sehingga setidaknya kita tidak memperparah keadaan, syukur bisa memperbaiki atau membenarkan suatu hal.

Inilah kehidupan, Tuhan pasti akan menguji kesabaran kita, buka tanpa makna. Sebenarnya Tuhan menguji kesabaran kita agar kita lebih kuat dan lebih baik dari waktu ke waktu, kalau kita bisa bersikap dengan bijak. Di sini Tuhan menguji seberapa bersih hati kita, seberapa kuat kita menjaga kebersihan hati kita, kan Tuhan melahirkan setiap manusia dengan hati yang bersih. Ibarat kertas yang awalnya putih polos, tergantung diri kita kertas ini mau kita apakan. Apakah kertas ini akan kita semakin indah bagi insan siapapun yang melihatnya, atau mengotorinya yang merugikan diri sendiri.

Jadi sabar itu pilihan, tapi nggak mungkin mengelak untuk belajar sabar yang diuji kapanpun di manapun. Kalau pilih sabar, ujian demi ujian pasti lebih berat, tapi kalau yakin, kita akan semakin kuat pula. Semoga saat kita dipanggil kembali oleh-Nya dalam keadaan yang kuat.

Ya Tuhan, kami bukanlah manusia yang sempurna, akan tetapi kami telah melakukan sejauh yang kami mampu, sesuai tuntunan Mu. Kami pasti banyak salah, akan tetapi, semoga Engkau mengampuni kami dan menerima keihklasan dan kesabaran kami dalam beribadah. Aamiin.