Tampilkan postingan dengan label Sastra Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra Indonesia. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 Januari 2018

Sajak dari Kalbuku

Sajak dari Kalbuku

Bukannya aku takut melihat terbitnya sang surya
Yang selalu menyapa dengan penuh kehangatan
Bukannya aku enggan membalas cinta langit berhias awan
Yang selalu menyelimuti dalam suka maupun duka

Aku hanya takut akan senja
Yang selalu mengingatkanku akan tenggelamnya
Angan-angan yang kini menyayat-nyayat hatiku
Yang dulu menenggelamkan hatiku kepada yang fana

Bukannya aku enggan memantaskan diri
Tetapi aku takut memaksakan hak yang bukan jalanku
Tanpaku, dirimu akan lebih baik menjadi pilihanmu
Bilamana itu lebih baik juga bagi diri ini, saat ini

Cukuplah diriku melihat indahnya senyummu
Sekalipun senyummu bukan untukku
Cintaku semata melihatmu bahagia
Sampai kesedihan air mataku habis berbuih, sirna

Maka, aku hanya bisa berdoa kepada Mu, Tuhan
Memohon, kiranya Engkau memaafkan atas segala tinta hitam
Dari bayang-bayangku yang kelam
Dari khilaf mimpi-mimpi semu penuh kesunyian

Yang aku takutkan, bukan aku yang bukan untukmu
Yang aku takutkan, jika dirimu tidak pernah memaafkanku
Karena, jika kau tak pernah sedikitpun memaafkanku
Kepada Tuhan kah aku pantas kembali berlumuran lukamu?

Yogyakarta, 3 Januari 2018

Selasa, 12 Desember 2017

Dulu yang Membawa Kami Kini

Dulu yang Membawa Kami Kini

Dulu yang bahkan kami tak pernah berdua
Tak sama seperti yang lain
Bahkan, kami dulu hanya bercakap seperlunya
Tanpa terbesit yang lain-lain

Kami yang dulu masing-masing
Pernah berlabuh di hati yang lain
Meninggalkan luka penuh sayatan
Nan sulit untuk berpaling

Namun, tanpa disadari
Kami saling mengenal yang tak sekadar kenal
Satu sama lain saling mengisi
Membangun cerita yang menjadikannya kekal

Awalnya terbesit keraguan di antara kami
Antara logis dan rasa hati
Antara kenangan lama dan angan masa depan
Apakah benar waktu datang kali ini?

Dulu memang yang dulu
Tetapi bayangan trauma tetaplah menghantui
Sekalipun kami masih memiliki mimpi
Dengan belajar dari masa lalu

Memang tak ada salahnya memulai kembali
Tetapi siapakah diri ini?
Karena merajut tak semudah membalikkan tangan
Apalagi kembali membuka hati yang terlanjur dingin

Diri ini yang takut kehilangan karena salah memulai
Tetapi sesungguhnya butuh kehangatan yang abadi
Yang tak mungkin terlalu lama berkelana sendiri
Yang butuh rangkulan hati karena saling memahami

Canda tangis maupun suka duka
Tampak saling memberi dan berbagi
Yang selalu menghiasi hari demi hari
Benarkah kami merasakan hal yang sama?

Dulu memang yang dulu
Namun, akankah kenangan pahit dulu itu
Yang justru mengantarkan hati kami
Pada kerinduan yang bukan sekadar angan diri sendiri?

Yogyakarta, 12 Desember 2017

Minggu, 04 November 2012

Contoh Analisis Cerpen dan Outline

Materi dari:
Singgih Sampurno, S.Pd., M.A.
Guru Pengampu Bahasa dan Sastra Indonesia MAN Yogyakarta 1
tahun 2011

CONTOH-CONTOH JUDUL ANALISIS KARYA SASTRA
1.    PERJUANGAN PEREMPUAN DALAM NOVEL PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN KARYA ABIDAH ELKHALIEQY
2.    PESAN MORAL ISLAM DALAM NOVEL PERJALANAN KE AKHIRAT KARYA DJAMIL SUHERMAN
3.    AJARAN TASAWUF DALAM TEKS SYEH ABDUL KADIR JAILANI
4.    UNSUR BUDAYA JAWA DALAM NOVEL IBU SINDER KARYA PANDIR KELANA
5.    SEKSUALITAS DALAM NOVEL SAMAN KARYA AYU UTAMI
6.    FENOMENA PERSELINGKUHAN DALAM CERPEN CINTA DI ATAS DANGAU TUA KARYA AGUS NOOR
7.    REALITAS LEBARAN DALAM CERPEN “TUKANG JAHIT “KARYA AGUS NOOR
8.    PERKAWINAN CAMPUR DALAM NOVEL SALAH ASUHAN KARYA ABDUL MOEIS
9.    PENYALAHGUNAAN KEKUASAAN DALAM NOVEL RANGDA KARYA SUPARTO BRATA
10.    PENINDASAN TERHADAP ETNIS CINA DALAM NOVEL PUTRI CINA KARYA SINDUNATA
11.    MITOS WAYANG DALAM NOVEL KITAB OMONG KOSONG KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA
12.    DUNIA BATIN PEREMPUAN JAWA DALAM NOVEL PENGAKUAN PARIYEM
13.    NILAI-NILAI PENDIDIKAN DALAM NOVEL LASKAR PELANGI KARYA ANDREA HIRATA
14.    NILAI-NILAI SUFISTIK DALAM CERPEN SENYUM KARYAMIN KARYA AHMAD TOHARI
15.    DIKSI SAINS DALAM NOVEL SUPERNOVA KARYA DEWI LESTARI
16.    MARJINALISASI PEREMPUAN DALAM NOVEL BEKISAR MERAH AHMAD TOHARI
17.    BUDAYA MAGIC DALAM NOVEL LIMA MENARA KARYA
18.    ASPEK BUDAYA JAWA DALAM NOVEL “SETITIK KABUT SELAKSA CINTA (SKSC)” KARYA IZZATUL JANNAH
19.    ………………………………………..DALAM CERPEN SEPETAK TANAH KUBUR
A.    PENGUBURAN TERORIS
B.    PENOLAKAN PENGUBURAN TERORIS
C.    PRO DAN KONTRA DALAM PENGUBURAN TERORIS

SEPETAK TANAH KUBUR
1.    TERORIS YANG TIDAK DITERIMA DI MASYARAKAT
2.    PEMAKAMAN JENAZAH TERORIS
3.    MASYARAKAT YANG EGOIS
4.    SIKAP MASYARAKAT TERHADAP KEMATIAN SESEORANG YANG DIANGGAP TERORIS
5.    PERLAKUAN KASAR TERHADAP MAYAT TOKOH SARIPIN
6.    PENCEMARAN NAMA BAIK
7.    NILAI-NILAI MORAL DALAM CERPEN
8.    KEPEMIMPINAN DALAM CERPEN

1) Cover:
Pandangan Islam terhadap Kematian Seorang Teroris dalam Cerpen “Sepetak Tanah Kubur” Karya Bambang Darto


Disusun untuk memenuhi sebagian tugas mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia
Guru Pengampu Singgih Sampurno, S.Pd., M.A.


#logo#


Disusun Oleh:
(Nama)


MADRASAH ALIYAH NEGERI YOGYAKARTA I
YOGYAKARTA
2011

2) Outline atau kerangka analisis cerpen:

Pandangan Islam terhadap Kematian Seorang Teroris dalam Cerpen "Sepetak Tanah Kubur" Karya Bambang Darto

A.    PENGANTAR
    FENOMENA TERORIS DI MASYARAKAT
B.    PANDANGAN ISLAM TERHADAP KEMATIAN TERORIS
1.    PANDANGAN ISLAM TENTANG TERORIS
2.    PANDANGAN ISLAM TERHADAP KEMATIAN TERORIS

C.    PANDANGAN ISLAM TERHADAP KEMATIAN TERORIS  DALAM CERPEN “SEPETAK TANAH KUBUR” KARYA DARTO
1.    PANDANGAN TOKOH TERHADAP TERORIS
2.    HUBUNGAN TOKOH DENGAN MASYARAKAT
3.    PANDANGAN MASYARAKAT ISLAM TERHADAP TEORORIS
4.    PESAN MORAL DALAM CERPEN “SEPETAK TANAH KUBUR”

D.    PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
Lampiran 1. Sinopsis Cerpen “ Sepetak Tanah Kubur’ Karya Bambang Darto
Lampiran 2. Data Analisis Pandangan Masyarakat Islam terhadap Teroris dalam Cerpen “Sepetak Tanah Kubur” Karya Bambang Darto
DATA ANALISIS

NO

DATA PENDUKUNG
PANDANGAN TOKOH TERHADAP TERORIS
HUBUNGAN TOKOH TERHADAP TERORIS
PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP TERORIS
PESAN MORAL
1
CONTOH KUTIPANNYA
CONTOH KUTIPANNYA
CONTOH KUTIPANNYA
CONTOH KUTIPANNYA

Rabu, 04 Juli 2012

Nilai-nilai Religius dalam Cerita Pendek: Resensi Cerpen “Nyanyian Surga” karya Sinta Yudisia


Judul Buku      : Nyayian Surga
Pengarang       : Sinta Yudisia Wisudanti
Penerbit           : DAR! Mizan
Cetakan           : I, Rajab 1424 H/September 2003
Tebal Buku      : iv + 190 Halaman
Ukuran Buku  : 115 mm x 165 mm

            Dunia sastra bernuansa Islami di Indonesia muncul kembali muncul di hadapan kita dengan terbitnya buku kumpulan cerpen Islami berjudul Nyayian Surga karya Sinta Yudisia Wisudanti. Di sela-sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga, penulis ini masih tetap produktif menulis. Hal ini dapat dibuktikan dengan sejumlah prestasi yang telah dicapainya, diantaranya: Juara II Lomba Menulis Cerpen Islami Annida Tingkat Nasional 2011, Juara II Lomba Cerpen Islami FLP Award Tingkat Nasional 2002, Juara Harapan I (kategori SMU), dan Juara Harapan II (kategori SD) pada Lomba Penulisan Buku Cerita Tingkat Nasional Departemen Agama 2002. Kumpulan cerpen Islami berjudul Nyanyian Surga (DAR! Mizan 2003) ini adalah buku keduanya yang diterbitkan DAR! Mizan dibawah Lini Sahabat Remaja Muslim, setelah sebelumnya kumpulan cerpen Islami berjudul Gadas Kebencian (DAR! Mizan 2003) mendapat respon positif dari para pembaca.
            Berbeda dengan buku-buku kumpulan cerpen lainnya, di dalam buku ini Sinta Yudisia tidak hanya menyajikan cerpen-cerpen bernuansa Islami, namun juga diambli dari kisah nyata yang terjadi di negara-negara kawasan Timur Tengah, mulai dari sejarah kebudayannya hingga perang berkepanjangan. Misalnya, pada cerpen yang berjudul “Syahbanu”. Cerpen ini menceritakan tentang masuknya agama Islam di Persia pada pertengahan abad ke-8. Saat itu, kondisi masyarakat dan tokoh masyarakat yang berada di kawasan Timur Tengah sedang terjebak pada paham dan aliran kepercayaan yang telah dibawa oleh nenek-moyangnya terdahulu, sehingga pemikiran-pemikiran mereka menjadi sangat sempit dan tidak ada hubungan interaksi yang baik antar kerajaan karena ketidaksepahaman pemikiran, bahkan terjadi perang antar kerajaan. Tidak terkecuali Dinasti Sasaniah, sebuah kerajaan yang berada di Persia. Sampai pada akhirnya datanglah ajaran Islam yang membawa kedamaian bagi seluruh umat manusia, membuat mereka terbuka pintu hatinya dan bertambah luas wawasannya. Termasuk Syahbanu, seorang perempuan penguasa Dinasti Sasaniah saat itu, yang selama ini menyembah Ahuramazda.
Sedangkan pada cerpen yang berjudul “Nyanyian Surga”, menceritakan tentang seorang tentara Amerika bernama Nicholas Bradford yang pada waktu itu sedang bertugas untuk melawan kekuatan militer Saddam Hussein di Irak, bersama serdadu-serdadu Amerika lainnya. Pada awalnya, ia dan keluarganya begitu bangga dengan cerita indah dan kepahlawanan ala Amerika. Terlebih lagi saat Nick menjadi salah satu prajurit di dalam serdadu-serdadu Amerika yang akan melawan kekuatan militer Saddam Hussein di Irak. Namun, setelah sampai di Irak, Nick tercengang melihat kondisi negeri yang berada di hamparan gurun pasir yang begitu panas itu begitu porak-poranda. Ia tidak tega melihat wajah-wajah para wanita dan anak-anak di Irak yang pucat pasi menanggung rasa sakit yang tak tertahankan, baik secara fisik maupun batin. Ia pun sudah tak percaya lagi dengan semua omong kosong tentang perang, bahkan semangat bertempur yang terus disuntikkan oleh kaptennya, Paul Thernton. Sampai pada akhirnya hatinya terketuk oleh sebuah suara yang pada awalnya ia anggap sebagai nyanyian Arab. Nyanyian itu kerap didengar olehnya dan teman-temannya tiap malam yang diperkirakan berasal dari salah satu sudut kota di Irak. Ternyata, suara yang ia anggap nyanyian itu berbunyi: Allahu Akbar, Allahu Akbar; Asyhadu alla Ilaaha Illallah; Asyhadu anna Muhammadarrasulullah.
            Dari cerpen ini, Sinta Yudisia merupakan salah satu dari sekian banyak penulis yang telah berhasil membawa eksistensi dunia sastra bernuansa Islami di Indonesia. Karena seperti yang kita ketahui bersama, dunia sastra sekarang dipenuhi dengan cerita-cerita yang bernuansa cinta dengan lawan jenis. Apalagi jika cerita-cerita itu tersusun dengan alur cerita yang tidak jelas dan nyaris tidak ditemukan amanat di dalamnya. Berbeda dengan cerpen-cerpen karya Sinta Yudisia dengan alur cerita yang jelas dan logis, mengandung amanat yang bernilai di dalamnya, serta mengandung nilai-nilai religius yang tinggi. Namun, masih terdapat beberapa penyusunan kata-kata yang kurang tepat. Teknik penceritaannya pun juga terlalu sederhana seperti yang digunakan oleh pengarang cerita pada umumnya.
            Meskipun demikian, kumpulan cerpen Islami berjudul Nyanyian Surga ini bukan berarti cerpen yang membosankan untuk dibaca. Teknik penceritaannya cukup mudah untuk dipahami oleh para pembaca. Banyak kisah-kisah penuh makna yang terkandung di dalamnya yang dapat kita ambil hikmahnya. Dengan kata lain, sebetulnya cerpen ini mempunyai keunggulan tersendiri bila dibandingkan dengan cerpen lainnya, yaitu terkandung nilai-nilai religius.

Minggu, 11 Desember 2011

Ketabahan Guritno

(Resensi Buku)



Judul Buku : Bunga Bunga Hari Esok
Pengarang : Sasmito
Penerbit : Balai Pustaka, Jakarta, 2000
Tebal Buku : 124 Halaman
Ukuran Buku : 141 mm x 206 mm

MILIK NEGARA
TIDAK DIPERDAGANGKAN

Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Mungkin itulah yang dirasakan oleh Guritno dan Pucung, adiknya. Bahkan lebih dari itu! Namun, Tuhan itu Maha Pemurah dan Maha Penyayang. Tuhan akan selalu mendengar permohonan hamba-Nya, dan akan dikabulkan bila disertai kesungguhan, serta tidak mudah putus asa. Karenanya, nasib seseorang bisa saja berubah.
Kepergian ibunya ibunya dirasakan sangat berat bagi mereka, Guritno dan Pucung. Sedangkan ayahnya, telah meninggal tiga tahun yang lalu. Sekarang, keduanya adalah anak yatim-piatu. Apalagi mereka masih bocah. Masih sangat membutuhkan uluran tangan dan bimbingan orang tua tercinta. Asmaradhana, yang sering disapa Mas As, turut merasakan kesedihan mereka yang begitu mendalam. Apalagi, Pucung adalah muridnya sendiri di SD Merbuh II. Namun, semua itu tidak membuat mereka putus asa begitu saja. Setelah mereka merelakan kepergian ibunda tercinta. Setelah mereka berusaha melupakan kesedihan mereka. Setelah mereka bersandar pada yang Maha Pencipta. Serta dukungan dari orang-orang terdekat. Itulah yang membuat mereka tetap tegar menghadapi pahitnya kenyataan hidup.
Gurit, begitulah ia disapa. Setiap harinya, ia menjadi pangon (orang yang merawat hewan ternak) di tempat Bu Pangkur, janda yang kaya dan baik hati. Bagaimana tidak? Biaya sekolah Pucung beliau yang membiayai. Selain itu, ia juga harus mengambil air untuk Bu Parijoto. Juga menjadi penggembala kambing dan membajak sawah di desa Merbuh. Ia hanya bisa bangga, melihat adiknya mendapat nilai yang memuaskan di sekolah. Pernah suatu ketika, Pucung mendapatkan nilai 10 ulangan matematika, saat masih kelas III. Tentu saja, ia ikut senang. Meski ia tak tahu apa itu matematika. Ya, Gurit adalah seorang anak yang buta huruf, juga tak mengenal angka. Kecuali dalam menghitung uang. Sampai akhirnya, ia ditawarkan Mas As untuk sekolah di KBPD, artinya Kelompok Belajar Pendidikan Dasar, yang bisa menampung segala umur. Kira-kira, saat Gurit berumur 16 tahun.
Salah satu keunikan buku fiksi ini ialah, ketika sang penulis menggambarkan rasa ‘cinta’ Gurit kepada Mbak Kinanti, seorang sarjana muda dari TKS atau Tenaga Kerja Sukarela, yang nantinya ikut mengurusi dan mengajar di KBPD. Yang ditunjukkan dari sikap Gurit yang gagap dan rikuh, kala melihat pertama kali sosok bertubuh ramping itu. Juga rambutnya yang panjang dan hitam bergelombang. Sesuatu yang ia sendiri tak dapat menceritakannya.
Semenjak bersekolah di KBPD, Gurit selalu bersungguh-sungguh. Tekadnya sangat kuat untuk mengubah dirinya, yang tadinya hanyalah seorang buta huruf dan buta angka. Semua itu tidak luput dari duungan Mas As, Mbak Kinanti, Pak Bayan (Pak Lurah desa Merbuh), juga Mbak Slendro. Selain bersekolah, Gurit juga mempunyai usaha sampingan, yaitu usaha minyak tanah dan membuat batu merah. Gurit sendiri belajar membuat batu merah dari Pak Sinom dan Mas Kumambang. Usaha sampingannya tak membuat belajar Gurit terganggu. Yang pada akhirnya, ia memperoleh STBS, yaitu Surat Tanda Serta Belajar, sampai akhirnya bisa mengikuti ujian persamaan. Bahkan, bersama Bawang temannya, ia memperoleh penghargaan siswa KBPD berprestasi. Juga memenangkan lomba cerdas tangkas P4 se-kecamatan Singorojo, bersama Bawang dan Slendro.
Ia pun juga membenah tempat tinggalnya itu, dengan ditanami berbagai tumbuhan dan bunga yang indah, serta merenovasi bangunan tua itu. Kebetulan, rumahnya juga mendapat bantuan untuk membuat pagar, seperti beberapa rumah lainnya. Tak hanya itu, Gurit juga sangat membantu dalam pembangunan di desa Merbuh. Gurit juga menjadi ketua KBU atau Kelompok Belajar Usaha, yang berkembang menjadi KUB atau Kelompok Usaha Bersama. KUB itu nantinya memenangkan lomba kelompok belajar usaha tingkat kecamatan. Keberhasilannya selama ini, membuat Gurit , juga Bawang, yang akhirnya mendapat beasiswa untuk bersekolah di SMFA, yaitu Sekolah Farming Menengah Atas. Usaha Gurit berupa minyak tanah dan membuat batu merahpun juga berkembang pesat. Yang membuatnya juga menjadi usahawan muda.
Sampai pada akhirnya, datanglah SK atau Surat Keputusan yang memerintahkan Mas As dan Mbak Kinanti untuk kembali ke asalnya. Sebelumnya, mereka membuat kenang-kenangan terakhir dengan mendaki bersama ke Gunung Ungaran. Yang beranggotakan Mbak Kinanti, Mas As, Mas Laras, Mas Kumambang, Megatrug, Gurit, Bawang, Pucung, serta Mbak Slendro dan teman sekolahnya, yaitu Titi, Dewi, juga seorang pemuda bernama Galuh.
Sisi kelebihan buku yang ditulis oleh Sasmito ini ialah, ketika menggambarkan suasana kesejukan di desa, yang jarang bahkan tak pernah dinikmati di kota. Juga suasana di siang maupun malam hari, serta menggambarkan keadaan cuaca disekitar sana. Melalui rangkaian kata-kata yang sangat indah. Amanat yang terkandungpun sangat besar artinya. Namun terdapat beberapa kata yang salah penulisannya seperti: mBak, Yokyakarta, tarap, dan hurup.
Amanat yang sangat besar itu, disampaikan melalui nasihat mbak Kinanti kepada Gurit dan Bawang di dalam buku:
“Tapi harus kalian ingat… keberhasilan kalian tidak begitu saja datang. Harus didahului perjuangan yang ulet. Kemauan dan kemampuan yang tinggi, serta kesadaran untuk maju. Coba seandainya semua orang yang putus sekolah, atau belum sama sekali sekolah seperti kalian dahulu, meniru cara kalian yang sekarang ini. Sungguh! Keluhan pengangguran tidak akan terdengar atau meskipun ada, akan sangat kecil sekali.”
Ya, seandainya saja setiap pemuda di seluruh Tanah Air ini, mempunyai kesadaran yang tinggi seperti Gurit.