Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 10 Juli 2017

Menanti Pintu Terakhir

Telah banyak pintu terbuka yang saya lihat, dan beberapa diantaranya telah saya ketuk, mencoba untuk masuk atau sekadar tau saja. Sejauh ini, semua itu hanya khayalan saja. Ada pintu yang dengan ramah, mempersilahkan untuk masuk, yang tetiba lenyap. Ada pintu yang mengundang, yang kemudian mengundang yang lain juga dan mengundang saya untuk keluar. Ada pintu yang diam-diam mengajak kemari, yang diam-diam pula menyimpan segudang pilihan. Ada pintu yang rapuh, yang menanti secara tersirat untuk diperbaiki, tetapi tidak konsisten, penuh kebiasan.

Sempat ada pintu yang membukakan kepada diri ini. Awalnya saya tidak coba masuk karena ragu, taktik cupu maju-mundur saat saya coba ketuk pada mulanya. Awal-awal tidak ada respon. Selanjutnya memang mengundang, mengajak masuk, memberi ruang berteduh di tengah hujan lebat. Seiring berjalannya waktu, nampaknya meyakinkan. Akan tetapi, ternyata bukan, berusaha menghilang begitu saja. Yang justru menambah trauma, dan seakan ingin berkata bahwa, lebih baik waktu itu diri ini dihujam kehujanan, daripada berteduh secara semu.

Terakhir yang saya coba sejauh ini, ada pula pintu yang banyak diburu. Saya ingat waktu itu setidaknya ada beberapa orang dengan jumlah kurang-lebih sebanyak hitungan jari tangan pada satu sisi, yang saling berebut di depan, untuk sekadar masuk, memperkenalkan diri. Dengan bodohnya saya nyelenong masuk begitu saja, siapa tau inilah yang selama ini saya cari, saya pikir waktu itu. Bahkan untuk yang satu ini, saya sempat membentuk majelis tertutup, mengundang orang-orang pilihan terpercaya untuk menuntun dan tempat berkonsultasi. Ternyata hanya berlangsung singkat, mungkin serasa tiga detik, terpental. Untung saya sudah cukup kebal, atau setidaknya tidak terlalu rapuh untuk merasakan hal yang sama untuk kesekian kalinya. Karenanya, ini bukan upaya yang terkahir untuk mencari pintu apa lagi.

Dan, ada banyak jenis pintu yang tidak bisa saya ingat. Setiap pintu memiliki teka-teki tersendiri, sulit untuk dipahami. Namun, setidaknya ada pelajaran yang bisa dipetik. Pun, setidaknya telah ada upaya, inisiatif dari diri sendiri. Sekalipun menyakitkan semua, apapaun namanya, penolakan tetaplah penolakan. Kembali lagi di tengah-tengah keramaian yang terasa sepi. Melihat banyak pintu yang terasa menggoda, dengan melihat banyak orang yang tergoda di depannya. Melihat banyak pintu yang telah dimasuki dan tertutup untuk selamanya, tampaknya, dengan hiasan yang menunjukkan penuh kebahagiaan di dalamnya. Ya, ikut bahagia dan tidak boleh syirik tentunya.

Namun demikian, ada juga pahit pintu lain yang saya lihat. Dan saya juga tidak ingin mentertawakannya, dan tidaklah bijak saya berlaku seperti itu. Hanya saja, lucunya, saya dengan pengalaman memasuki pintu yang tergolong minim, tidak jarang diri ini menjadi tempat curhat bagi orang yang memiliki pintu kerap gagal membuka bagi orang yang menanti ataupun dinanti, atau orang yang kerap gagal memasuki pintu yang ternyata pintu bagi orang lain. Yang saya lakukan hanya memehami, mendengar saja. Entah yang diceritakan salah atau benar, yang penting saya tidak merecoki. Bahkan, sejahat-jahatnya orang pun, butuh tempat curhat yang berganti-ganti. Apalagi seseorang yang terluka begitu parah, yang sayapnya terobek-robek, menjadikannya terombang-ambing serasa tanpa makna. Disitu kadang saya merasa tidak sendiri, hehehe.

Mulanya saya khawatir, saya tidak lekas menemukan pintu yang seharusnya pintu yang saya masuki, pintu yang tercipta untuk saya. Toh, itu manusiawi. Setiap insan yang masih menyendiri tentu merasakan hal yang sama. Kekhawatiran yang mendalam dalam kesendirian. Boleh jadi, selama ini saya telah berjuang malang-melintang mencari pintu. Akan tetapi, saya kemudian berpikir, jangan-jangan cara saya dan sudut pandang saya dalam menemukan pintu selama ini salah. Salah-salah, inilah yang selama ini terjadi. Jadi, ada kekhawatiran yang lebih filosofis yang timbul dalam benak dan rasa saya: saya belum berupaya memantaskan diri bagi pintu yang terbaik.

Saya tidak mungkin mengizinkan diri sendiri untuk jatuh ke lubang yang sama, melakukan kesalahan yang sama. Yang bukan berarti tidak mau menghadapi kembali penolakan, melainkan memperbaiki cara dalam menempuh jalan. Menyadari bahwa manusia ini penuh dengan kekhilafan dan kelemahan, sedangkan yang baik-baik itu semata-mata karena Tuhan menutupi aib seseorang. Pun, Tuhan dengan kuasa-Nya menggariskan bahwa yang terbaik akan dijodohkan bagi yang terbaik pula. Seperti pepatah bahwa seseorang akan memetic apa yang ia tanam, yang dalam konteks kegalauan ini dapat diperluas maknanya, bahwa seseorang akan menemukan pintu yang selama ini ia cari. Jika caranya baik, pintu yang terbaik akan menantinya dan tidak bagi yang lain, dan begitu pula sebaiknya.

Memantaskan diri bagi pintu yang terbaik, menyadari diri ini bukanlah siapa-siapa, yang harus banyak belajar dari jalan-jalan yang pernah ditempuh, maupun dari yang dapat disaksikan oleh diri sendiri. Jadi, kali ini saya harus menahan diri, tidak boleh teruru-buru, grusa-grusu, kesusu. Berharap menemukan pintu yang tepat, dan untuk terakhir kalinya keluar ditengah rimba. Hanya saja, masih terbenak akan penasaran pintu mana yang menanti saya. Apakah pintu yang masih jauh adanya, yang masih dijaga dan dirahasiakan oleh waktu yang belum memperkenankan untuk berjumpa. Atau ternyata pintu yang selama ini saya kenal, yang tidak pernah disadari bahwa ia terbuka untuk diri ini, yang menantiku dalam diam sampai detik ini. Wahai pintu terakhir, semoga dirimu menanti diri ini!

Rabu, 03 Mei 2017

Kupu-Kupu

Langit mendung. “Sepertinya akan turun hujan”, kataku, kepada diriku sendiri, di tengah lusinan rakyat kecil yang menunggu bis untuk kembali ke gubuknya sendiri-sendiri. Kesepian di tengah keramaian, aku hanya bisa menatap langit. Sampai beberapa menit kemudian aku memalingkan wajahku dari langit, yang tiba-tiba membentuk wajah dia. Dia yang pernah mengisi kehampaan hatiku, yang kini justru meninggalkanku dan membuat hidupku super hampa. Seolah dunia sedang mengejekku karena kebaperanku. Aku pun coba melihat ke arah yang lain, untuk sekedar tidak menaikkan rasa sakit ini.

Tak jauh dari shelter bis, ada sebuah taman kecil di depan fakultas tetangga. Sebuah kupu-kupu baru saja meninggalkan sebuah bunga. Sepertinya sore ini aku baper berat, ditemani rerintihan hujan dan tiupan angin yang membawa anganku kembali ke masa itu sejenak. Teringat kembali aku pada masa aku masih mahasiswa baru. Tentang berbagai kegiatan kampus yang aku ikuti, teman-teman baru yang kece abis, hingga dia. Ya, dia yang membuatku terasa berbeda dari sebelumnya dan terasa berbeda diandingkan dengan yang lainnya, sulit untuk dijelaskan. Hanya satu kata yang dapat menggambarkan rasa itu di hatiku: indah!

Sebenarnya, tak pernah terpikirkan olehku untuk coba mencari gandengan. Suatu hari aku mengikuti kegiatan kampus lintas fakultas. Sebagai maba, aku terlalu bersemangat, aku datang setengah jam lebih awal dari waktu yang seharusnya. Gak sampai lima menit, rasanya mulai jenuh. Aku hanya sandaran saja di sebuah tiang, di tengah megahnya gedung rektorat kampusku. Clingak-clinguk kayak gak ada tanda-tanda kehidupan, aku pun berpikir tidak ada salahnya pergi sebentar untuk beli minum. Ketika niat itu baru muncul dan aku berbalik badan dari belakang tiang, tiba-tiba saja seseorang muncul. Aku kaget, dengan sedikit kagum dan bergumam, cantik kali ini orang.

Tak sadar aku dalam lamunanku beberapa detik, ternyata ia memanggilku, dan aku pun baru sadar. Tapi kali ini tubuhku terasa tak sanggup bergerak, apalagi untuk mengucap sepatah kata saja. Hingga akhirnya aku mencoba say hi kepadanya. Dah, done. Masih di tiang yang sama, aku mencoba sedikit bergeser, sedikit menjauh darinya. Ternyata ia juga melakukan hal sama sepertiku: duduk, menempelkan punggung di tiang, dan bergeser, mendekat. Aku pun melakukannya dua kali, begitu pula dia. Sampai ia menyapa lagi. Aku pun masih gado-gado, antara gugup dan, ah, entahlah.

“Ihh… kak… kok menjauh sii… aku mau tanya boleh gak?”
“Ta-ta-tanya apa?”
“Ini, kakak panitia acara ini kah? Bener kan di sini kumpulnya?”

Ia menunjukkan poster acara lintas fakultas ini di hape nya. Aku pun hanya mengangguk, bener-bener belum bias bicara.

“Kakak panitia ya?”
“Eh, bu… eh, maaf, bukan”

Kemudian kujelaskan bahwa aku maba dan aku bukan panitia. Spontan dia tertawa, dia pikir aku panitia dan berstatus angkatan tua. Akupun ikut tertawa, masih campur gugup, sambil menatap mata dan senyumnya. Begitu indah rasanya, begitu cantik. Aku pun segera berusaha bangun dari anganku, dan untuk ketiga kalinya, aku mencoba untuk menjauh ke kanan hingga aku tak melihatnya. Aku terus melihat ke kiri, memastikan ia tak melakukan hal yang sama sepertiku. Tiba-tiba, ia duduk di dekatku, di sisi kanan. Ia pun tertawa, dan aku tak sanggup mengelak lagi. Kita tertawa.

Kita pun berkenalan, bercengkrama, hingga 20 menit lebih kekonyolan tadi hanya terasa beberapa detik saja. Gedung rektorat pun semakin ramai, terutama ketika bis memasuki halaman depan. Kegiatan akan segera dimulai dan kami harus meninggalkan kampus tercinta. Begitulah seterusnya. Dan, acara kali itu berlangsung lancar, begitu pula perkenalanku dengannya.

Sayang, dia tidak satu fakultas denganku, hanya saja bersebelahan. Sepertihalnya aku dengan dia, terus bersebelahan tanpa mengenal perbedaan. Anganku pun hilang seketika, ketika petugas shelter bis mengingatkan bahwa bis telah datang. Cepat-cepat aku menaiki bis yang hampir meninggalkanku. Yap, kembali ke suasana yang biasa kujumpai di sore hari. Membosankan. Sama seperti kala itu, hari kuliah pun kembali dan aku tidak mungkin tertawa lagi dengannya, hanya bisa mengingatnya dan sesekali chatting dengannya, sebagai seorang teman. Meski dengan cepat aku berharap nantinya lebih dari sekedar teman.

Lambat laun kegiatan perkuliahan dan organisasi membuatku sibuk, termasuk aku harus berjuang atas peluang beasiswa yang baru aku daftarkan pas aku sudah menyandang status mahasiswa. Aku tak ingin merepotkan orang tuaku. Pada saat yang sama, aku ingin kembali tertawa dengannya, hanya saja aku tidak bisa menyisakan waktu, toh waktu itu ia juga tak memintaku untuk bertemu secara fisik. Dan bagiku, chattingan rasanya cukup. Hingga semester yang sama berakhir, semua rasanya berhasil bagiku: nilai bagus, beasiswa jebol, organisasi naik daun. Tapi rasanya ada satu yang kurang: hubunganku dengannya. Perlahan, ia mulai jarang membalas chatku. Awalnya aku berpikir dia sibuk, atau mungkin sudah ada yang punya. Sudahlah, salahku sendiri aku tak bisa menawarkan waktu dengannya untuk bertemu kembali. Jadi kuputuskan untuk tidak chat ke dia lagi daripada mengganggu orang lain.

Bis melaju dengan kencang, melewati setiap kemacetan jalanan sore hari tanpa ampun. Kuda-kuda besi mulai dari motor, mobil, bis, siapapun bertarung dalam suatu arena jalan yang sama untuk mencapai tujuannya masing-masing. Begitu pula semester demi semester pun telah kulalui, banyak yang dapat kucapai sejauh ini. Hanya saja tanpa dia. Entah kenapa aku selalu teringat tentangnya, seolah tak tergantikan. Melihat status teman-teman di sosmed pun sudah dihiasi dengan foto berdua dengan say nya masing-masing. Setiap helaian angin rasanya semakin ingin kembali akan masa lalu dengannya.

Hingga suatu pagi tatkala aku gak tau mau ngapain, sebuah chat masuk ke hape ku. Dari nama yang tak asing bagiku. Hmm… dia! Oh, come on, kenapa dia tetiba muncul di saat ku coba melupakannya dan mulai mengikhlaskan dia dengan yang lain?! Tapi aku pun tak bisa mendiamkannya, gimanapun dia temanku, satu universitas pula. Kucoba membalas chatnya.

“Kak?”
“Ya, kenapa?”
“Sibuk gak kak? Jalan2 yuu… bosen nih.”

Aku pun bingung mesti bilang apa. Pagi ini aku memang sedang gabut segabut-gabutnya orang, mager pula. Tapi, apakah ini kesempatan terakhirku?

Bis melaju semakin kencang, seolah mengejar matahari terbenam dan tidak terima bulan akan mengubah hari menjadi malam. Sama seperti kala itu motor kupacu secepat yang kubisa, tanpa mengenal batas lampu merah dan hijau. Karena aku tau dia sedang menungguku dan aku tak mau membuatnya menunggu terlalu lama. Sejak saat itulah aku mulai jalan-jalan dengannya, ditambah dengan kode-kodean dan segala gombalan yang begitu memabukkan angan. Dan akhirnya yang lebih dari sekedar teman pun terwujud, gumamku. Tapi itu tak berlangsung lama, sama seperti bis yang tiba-tiba ngerem mendadak gak enak banget begitu saja, tatkala hampir sampai rumahku.

Menjelang kelulusanku, tidak ada tanda-tanda ia akan datang menyambutku. Yang ku ingat hanyalah harapan dia agar aku lulus pendadaran, lagi-lagi via chat. Entah mengapa dia hilang begitu cepat, di saat aku lagi sayang-sayangnya. Aku pun resah dan ragu, dan akhirnya semua terjawab sudah oleh temanku yang aku anggap sebagai tangan kananku di kampus. Awalnya aku menuduhnya menghasut hubunganku dengan dia. Ternyata tidak. Ditunjukkannya kepadaku foto-foto mesra mereka di sosmed kekasih dia yang sesungguhnya, sebagai bukti bahwa ternyata hubungan mereka telah berlangsung sejak dia maba! Sial! Akupun tak mungkin mengelak karena temanku ini satu fakultas dengan dia. Hingga hari kelulusanku, aku mencoba kembali ke tiang di mana aku kali pertama bertemu dengan dia. Semua angan itu, bualan itu. Entah untuk ke berapa kalinya, kukatakan kepada diriku sendiri: sudahlah! Tak perlu diingat lagi. Toh bis telah mengantarku pulang. Kembali sendiri. Setidaknya dia pernah memberiku serbuk-serbuk yang manis untuk dikenang...

Yogyakarta, 3 Mei 2017